cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Selasa, 22 September 2020

Glenn Fredly Meninggal karena Meningitis, Ketahui 5 Faktor Risikonya!

Glenn Fredly meninggal dunia karena meningitis, penyakit yang memiliki bahaya komplikasi dan dipicu oleh beberapa faktor risiko.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Glenn Fredly meninggal dunia (Instagram/@glennfredly309)
Glenn Fredly meninggal dunia (Instagram/@glennfredly309)

Himedik.com - Kadar duka datang dari penyakit kondang Glenn Fredly yang baru saja meninggal dunia di Rumah Sakit Setia Mitra Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2020) kemarin sekitar pukul 18.00 WIB.

Glenn Fredly meninggal dunia karena meningitis atau radang selaput otak.

"Glenn Fredly meninggal dunia di Rumah Sakit Setia Mitra, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2020) pukul 18.47 WIB akibat meningitis," demikian keterangan Mozes Latuihamalo mewakili keluarga Glenn Fredly yang diterima tim Suara.com.

Kematian Glenn Fredly yang mendadak ini cukup mengejutkan rekan-rekan artis dan para penggemarnya. Publik juga turut menyoroti penyebab kematian Glenn Fredly, yaitu meningitis.

Karena, meningitis termasuk penyakit yang bisa menyerang segala usia dan mengancam jiwa. Meningitis adalah peradangan selaput (meninges) yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

Seperti yang diketahui, penyebab meningitis bisa bersifat tidak menular, seperti reaksi kimia, alergi obat, beberapa jenis kanker dan penyakit radang seperti sarkoidosis. Tapi dilansir oleh Mayo Clinic, faktor tertentu bisa meningkatkan risiko meningitis seseorang.

Glenn Fredly menyanyi di pesta perilisan album barunya berjudul "Romansa Ke Masa Depan" di M Bloc Space, Jakarta Selatan, [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Glenn Fredly menyanyi di pesta perilisan album barunya berjudul "Romansa Ke Masa Depan" di M Bloc Space, Jakarta Selatan, [Suara.com/Angga Budhiyanto]

1. Melewati vaksinasi

Risiko meningitis akan meningkat pada orang yang belum menyelesaikan vaksinasi anak atau dewasa yang telah direkomendasikan.

2. Usia

Sebagian besar kasus meningitis virus terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Sedangkan, meningitis bakteri umum terjadi pada mereka yang berusia di bawah 20 tahun.

3. Hidup dalam lingkungan komunitas

Mahasiswa yang tinggal di asrama, personel di pangkalan militer dan anak-anak di sekolah berasrama atau fasilitas penitipan anak berisiko tinggi terkena meningitis meningokokus. Hal ini bisa terjadi karena bakteri disebarkan melalui rute pernapasan, dan menyebar dengan cepat melalui kelompok besar.

4. Kehamilan

Kehamilan bisa meningkatkan risiko listeriosis, infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria. Kondisi ini juga dapat menyebabkan meningitis. Listeriosis juga bisa meningkatkan risiko keguguran, lahir mati dan kelahiran prematur.

5. Sistem kekebalan tubuh terganggu

AIDS, alkoholisme, diabetes, penggunaan obat-obatan penekan kekebalan dan faktor-faktor lain yang memengaruhi sistem kekebalan juga meningkatkan risiko meningitis.

Ilustrasi meningitis. (Shutterstock)
Ilustrasi meningitis. (Shutterstock)

Bahkan, meningitis juga bisa menyebabkan komplikasi parah. Tingkat keparahannya tergantung seberapa lama Anda menderita meningitis tanpa pengobatan.

Adapun komplikasinya, termasuk gangguan pendengaran, daya ingat menurun, ketidakmampuan belajar, kerusakan otak, masalah gaya berjalan, gagal ginjal, syok dan kematian.

Jika orang dewasa atau anak-anak menderita meningitis lama dan tanpa pengobatan, kondisi ini juga bisa meningkatkan risiko kejang dan kerusakan neurologis.

Tapi, pasien dengan meningitis parah dapat memiliki pemulihan yang baik jika mendapat perawatan medis yang cepat dan tepat.

Terkait

Terkini