cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Selasa, 22 September 2020

Studi: Testosteron Rendah pada Pasien Covid-19 Pria Tingkatkan Kematian

Testosteron adalah salah satu dari banyak hormon yang bertanggung jawab untuk memantau respons kekebalan tubuh.

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
cloud_download Baca offline
Ilustrasi pria sakit. (Pixabay)
Ilustrasi pria sakit. (Pixabay)

Himedik.com - Studi baru dari Jerman menyatakan, bahwa pasien Covid-19 pria dengan testosteron rendah lebih berisiko meninggal.

Melansir dari Independent, sebuah studi baru dari rumah sakit Jerman telah menjelaskan peran yang dimainkan oleh testosteron, hormon seks pria dalam respons tubuh terhadap SARS-CoV-2 (virus corona penyebab Covid-19).

Para peneliti di Pusat Medis Universitas Hamburg-Eppendorf menilai 45 orang pasien Covid-19 pertama (35 pria, 10 wanita) yang dirawat di unit perawatan intensif rumah sakit.

Dari kelompok ini, sembilan pria dan tiga wanita meninggal. Tujuh dari pasien itu membutuhkan oksigen sementara 33 membutuhkan ventilator.

Dari 35 pria, lebih dari dua pertiga (68,6 persen) memiliki tingkat testosteron yang rendah. Sebaliknya, lebih dari setengah pasien wanita (60 persen) telah meningkatkan kadar testosteron.

Testosteron adalah salah satu dari banyak hormon yang bertanggung jawab untuk memantau respons kekebalan tubuh.

Pada pria, level rendah testosteron dapat mengganggu dan membingungkan respon tubuh saat melawan patogen. Ini dapat menghasilkan badai sitokin, suatu kondisi hiperinflamasi yang disebabkan oleh sistem kekebalan yang terlalu aktif.

Kondisi itu telah terlihat pada banyak penderita Covid-19.

Ilustrasi pria sakit. (Unsplash/christopher lemercier)
Ilustrasi pria sakit. (Unsplash/christopher lemercier)

Diperkirakan bahwa reaksi homeostatis ekstrem tersebut dapat menyebabkan kerusakan paru-paru yang parah dan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), pada akhirnya kondisi itu akan membunuh pasien Covid-19.

"Pria dengan kadar testosteron normal tidak menunjukkan badai sitokin dan karenanya lebih mungkin untuk bertahan hidup," kata Profesor Gülsah Gabriel yang terlibat dalam penelitian.

Untuk pasien Covid-19 wanita, penelitian di Jerman menemukan bahwa peningkatan kadar testosteron terkait dengan peningkatan respon inflamasi.

"Dengan SARS-CoV-2 terus menginfeksi manusia di seluruh dunia, berulang kali dilaporkan bahwa pria dengan Covid-19 berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan hasil yang parah dan bahkan mematikan dibandingkan dengan wanita, terlepas dari usia," tulis para peneliti.

"Dengan demikian, menjadi sangat penting untuk memahami mengapa pria lebih mungkin meninggal karena Covid-19 daripada wanita," tambahnya.

Penelitian ini belum ditinjau oleh sejawat dan perlu penelitian lebih lanjut.

Terkait

Terkini