cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Sabtu, 19 September 2020

Disangka Ruam Biasa, Wanita Ini Justru Alami Kanker Dubur

Ruam ini kemudian menjadi lesi yang berbentuk cincin dan terasa gatal.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Yuliana Sere
cloud_download Baca offline
Ilustrasi wanita alami ruam. (Unsplash/rawpixel)
Ilustrasi wanita alami ruam. (Unsplash/rawpixel)

Himedik.com - Seorang wanita dari Kansas, Amerika Serikat didiagnosis dengan kondisi langka. Di tubuhnya ditemukan pola berputar yang muncul pada paha, bokong, dan ketiak. Ia diketahui mengalami ruam selama 11 bulan sebelum mengunjungi dokter kulit.

Ruam itu kemudian berevolusi menjadi lesi berbentuk cincin dengan rasa gatal, seperti dilansir dari Newsweek.

Awalnya, wanita berusia 73 tahun itu dirawat dengan obat anti-inflamasi berupa antihistamin dan prednison. Namun, tidak kondisinya menunjukkan tanda-tanda yang membaik.

Empat bulan kemudian, ruam itu terus berkembang menjadi bercak merah yang melingkar. Dia juga mulai mengalami sakit perut, diare, dan muntah.

Kolonoskopi atau pemeriksaan endoskopi usus besar dengan kamera menunjukkan dia menderita kanker dubur tipe IIA.

Menurut American Cancer Society, jenis kanker ini lebih besar dari empat perlima inci, tetapi lebarnya tidak lebih dari dua inci.

Ilustrasi kanker kulit. (pixabay/hans)
Ilustrasi ruam. (pixabay/hans)

''Kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening,'' tutur salah satu tim medis.

Sebelum memulai radiasi dan kemoterapi, wanita itu menemui dokter kulit sehingga ruamnya dapat diobati.

''Dia menerima diagnosis klinis eritema gyratum repens, ruam paraneoplastik yang jarang terjadi, biasanya berhubungan dengan kanker payudara, paru-paru, atau kanker kerongkongan,'' begitu keterangan dalam laporan kasus itu.

Dia dirawat dengan steroid dan obat yang biasanya digunakan untuk nyeri saraf. Tiga bulan kemudian, ruam mereda dan dia pun menjalani kemoterapi dan radiasi.

Pada kunjungan lanjutan di bulan ke delapan, kanker tetap dalam remisi dan ruam belum sembuh.

Erythema gyratum repens adalah kondisi yang langka. Menurut MedScape, kurang dari 100 kasus ditemukan dalam literatur medis.

Bagaimana dan mengapa kondisi ini terjadi tidak diketahui walaupun diduga itu bisa menjadi respon imun di mana antigen dari tumor bereaksi dengan antigen kulit.

Ilustrasi dirawat di rumah sakit (Unplash/rawpixel)
Ilustrasi dirawat di rumah sakit (Unplash/rawpixel)

Laporan lain mengungkapkan erythema gyratum repens terjadi pada 2010. Dalam kasus ini, seorang pria Prancis berusia 83 tahun mengalami ruam yang selama satu tahun semakin memburuk.

Dokter-dokter di Université François-Rabelais mendiagnosis pria itu dengan erythema gyratum repens.

Setelah dikirim untuk tes lebih lanjut, dokter menemukan massa di paru-parunya. Diagnosis lebih lanjut menunjukkan dia menderita kanker paru-paru.

''Erythema gyratum repens adalah sindrom langka yang biasanya dikaitkan dengan kondisi ganas yang mendasarinya,'' kata laporan kasus tersebut.

''Ini terjadi paling sering bersamaan dengan kanker paru-paru dan selanjutnya dengan kanker kerongkongan dan payudara. Ini dapat menurun dengan pengobatan kanker.''

'''Pengobatan dengan gemcitabine dimulai untuk pasien ini tetapi dia meninggal tiga bulan setelah diagnosis, setelah hanya mendapatkan satu infus.''

Terkait

Terkini