Sabtu, 25 Januari 2020

Dianggap Masih dalam Masa Puber, Remaja Ini Justru Alami Tumor Otak

Dokter mengatakan itu hanya perubahan hormon yang disebabkan oleh masa pubertas.

Agung Pratnyawan | Yuliana Sere
cloud_download Baca offline
Ilustrasi tumor otak. (shutterstock)
Ilustrasi tumor otak. (shutterstock)

Himedik.com - Seorang remaja yang mengalami tumor awalnya dianggap sebagai masih dalam masa puber oleh dokter. Lily Biggs (19) dari Brecon di Wales, mulai mengalami pusing dan kehilangan kesadaran ketika dia berusia 13 tahun.

Tetapi setelah memeriksakan diri ke dokter, ia diberi resep obat dan diyakinkan bahwa itu kemungkinan disebabkan oleh perubahan hormon.

Melansir dari dailymail, dia akhirnya menjalani pemeriksaan pada seorang spesialis yang kemudian menyarankannya untuk menjalani scan otak.

Lily kemudian didiagnosis menderita tumor otak. Meski setelah menjalani operasi dua kali, tumor ini tak dapat dihilangkan.

Meskipun tumor tidak mengancam hidupnya saat ini, dokter mengatakan tumor ini bisa membesar.

Terlepas dari itu, Lily saat ini tengah menempuh pendidikan gelar tekniknya di sebuah universitas. "Ketika seseorang memberi tahu Anda bahwa Anda menderita tumor otak, rasanya seperti hukuman mati," tuturnya.

"Aku hanya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tahu bahwa kondisiku dapat memburuk dan itu cukup menakutkan.

Ilustrasi rumah sakit. (Unsplash/Marcelo Leal)
Ilustrasi rumah sakit. (Unsplash/Marcelo Leal)

 

'Tetapi jika aku duduk dan berkubang di dalamnya, aku tidak akan mendapatkan apa pun dari kehidupan. Maka jika sesuatu yang serius terjadi, aku akan menyia-nyiakan hidupku."

Pada tahun 2013, Lily Biggs mulai mengalami gangguan penglihatan, tinitus, pusing serta pingsan jika dia memutar kepalanya terlalu cepat.

Tetapi ketika obat yang diresepkan tidak bekerja, ibunya Wendy dan ayahnya Nic bersikeras bahwa dia harus mengunjungi dokter spesialis.

Setelah bertahan lebih dari enam bulan, Lily diperiksa oleh seorang dokter anak di Rumah Sakit Hereford. Tetapi dalam waktu yang sangat singkat, kehidupannya berubah.

"Setelah pemindaian pertama saya dipanggil kembali untuk yang kedua, karena daerah kecil di otak yang tidak bisa mereka lihat," kata Biggs.

"Setelah pemindaian kedua, saya diberikan tes darah, dirawat di rumah sakit dan kemudian diberi tahu saya menderita tumor otak."

Biggs kemudian dibawa ke Rumah Sakit Anak Birmingham. Meskipun dokter tidak yakin apa jenis tumor yang dimilikinya, itu telah diklasifikasikan sebagai glioma batang otak tingkat rendah.

Sekitar 75 persen glioma batang otak didiagnosis pada anak-anak dan dewasa muda di bawah usia 20 tahun, tetapi mereka juga dapat memengaruhi orang dewasa yang lebih tua.

Dokter tidak dapat melakukan operasi untuk mengangkat tumornya karena kadang-kadang tumor terletak di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh ahli bedah yang akan menyebabkan lebih banyak kerusakan.

Tumor itu tampaknya terbuat dari sel-sel yang seha tetapi itu bisa berubah kapan saja, menurut laporan para dokter kepada Biggs.

Itu juga bisa mengancam hidupnya jika semakin besar karena akan menciptakan lebih banyak tekanan pada otak. Biggs berkata, “Saya merasa lega ketika saya tahu. Saya tidak terkejut, saya tahu sesuatu yang serius sedang terjadi.

Sarah Lindsell, kepala eksekutif The Brain Tumor Charity mengatakan, "Prestasinya dalam menghadapi diagnosisnya sangat luar biasa dan kami mendoakan yang terbaik sambil melanjutkan studinya dan kariernya."

Terkait

Terkini