Selasa, 23 Juli 2019

Otak Ibu Berubah Setelah Melahirkan? Ini Penjelasannya

Saat pertama kali melihat bayinya, seorang ibu akan merasakan cinta pada pandangan pertama.

Vika Widiastuti
Ilustrasi ibu dan bayi baru lahir. (shutterstock)
Ilustrasi ibu dan bayi baru lahir. (shutterstock)

Himedik.com - Saat hamil atau melahirkan, seorang ibu akan mengalami banyak perubahan. Salah satunya ketika hamil, rahim wanita akan tumbuh berkali lipat dibanding ukuran normal. 

Namun, tidak semua perubahan terlihat. Yang terjadi di dalam otak contohnya, bahkan perubahan terbesar terjadi di otak.

Dilansir dari businessinsider, saat pertama kali melihat bayinya, seorang ibu akan merasakan cinta pada pandangan pertama, secara harfiah. Hal tersebut karena bagian inti dari jaringan otaknya masuk.

Mereka menandakan pelepasan hormon perasaan baik, seperti dopamin dan oksitosin ke dalam darahnya, yang segera memicu hubungan kuat antara cinta dan sayang kepada bayinya. Bahkan, penelitian menunjukkan, ibu-ibu ini memiliki tingkat oksitosin yang sama dengan pasangan romantis yang baru saja jatuh cinta.

Pemindaian otak mengungkapkan, seorang ibu juga akan mengalami hal serupa saat melihat bayinya tersenyum.

Namun, berbeda saat seorang ibu melihat bayinya menangis. Tangisan tersebut akan mengaktifkan jaringan di otak ibu yang dikenal sebagai jaringan pengaturan emosi. Hal tersebut termasuk kontrol prefrontal dan cingulate, yang membantu mengendalikan emosinya. Hal ini menjadi hal yang penting, apalagi saat seorang ibu hanya tidur sebentar dan stres oleh tangisan bayinya.

Sentuhan ibu dan bayi  [shutterstock]
Sentuhan ibu dan bayi [shutterstock]

 

Meski melelahkan, sebenarnya ibu baru menjadi lebih waspada dari biasanya karena jaringan khusus di otak mereka. Para ilmuan berpikir, melahirkan mengaktifkan jaringan ini untuk membantu mendeteksi ancaman dan melindungi bayinya dari bahaya. Dalam situasi bahaya, jaringan ini dapat membantu meningkatkan adrenalin.

Namun, setiap harinya, seorang ibu perlu memahami kebutuhan bayinya. Untuk itu, ia menggunakan empati, yang berasal dari jaringan sosial di otaknya. Hal ini melibatkan insular dan amygdala, yang ditemukan oleh peneliti menjadi lebih aktif ketika para ibu melihat foto-foto bayinya dalam kesulitan dibandingkan dengan foto-foto netral.

Bukan hanya otak ibu saja yang berubah. Peneliti menemukan, otak ayah akan melepaskan oksitosin ketika ia berintekasi dengan bayinya.

Hal tersebut kerap kali disertai dengan lonjakan hormon lain , yaitu prolaktin. Hormin tersebut disebut hormon susu karena memicu produksi ASI.

Namun, pria juga bisa memproduksinya dan para peneliti menemukan, ayah yang sering bermain dengan bayi mereka memiliki kadar prolaktin lebih tinggi dalam darah mereka daripada ayah yang tidak. Mereka juga akan lebih responsif terhadap tangisan bayi mereka.

Terkait

Terkini