Selasa, 17 September 2019

Viral Kasus KDRT Wanita di Bogor, Mengapa Korban Cenderung Bertahan?

Sebelumnya wanita ini sudah berkali-kali mendapat kekerasan dari suaminya, tetapi tidak pernah mengutarakannya.

Vika Widiastuti | Shevinna Putti Anggraeni
Ilustrasi wanita menangis - (Shutterstock)
Ilustrasi wanita menangis - (Shutterstock)

Himedik.com - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang diduga terjadi pada seorang wanita asal Bogor baru-baru ini heboh di media sosial. 

Kasus tersebut viral setelah dibagikan oleh tetangga korban, pengguna akun Twitter @AyundaaaT_, pada Sabtu (7/9/2019).

Ia memperlihatkan kondisi korban setelah dianiaya suami yang membuat matanya bengkak hingga tak bisa terbuka dan seluruh wajahnya dipenuhi luka lebam.

"Ini tetangga aku digebukin sama suaminya padahal suaminya yang salah gara-gara selingkuh, tapi malah istrinya yang jadi korban. Tolong bantu sebarin biar orangnya cepet ketangkep," cuitnya.

Kejadian bermula ketika korban menyembunyikan kunci sepeda motor karena jengah dengan perselingkuhan suaminya. Bahkan, wanita ini sudah berkali-kali mendapat kekerasan dari suaminya, tetapi tidak pernah mengutarakannya.

"Dan yang lebih sedihnya lagi, istrinya ini sabar banget. Sempat 1 kamar sama selingkuhannya, istrinya rela tidur bertiga biar suaminya mau tidur di rumah. Dan KDRT ini ternyata sudah sering, cuma yang ini paling parah dan baru cerita ke kluarga," imbuhnya.

Korban KDRT di Bogor - (Twitter/@AyundaaaT_)
Korban KDRT di Bogor - (Twitter/@AyundaaaT_)

 

Anda mungkin penasaran mengapa banyak wanita yang tetap bertahan dalam sebuah hubungan setelah mendapat kekerasan sepeti yang dialami wanita tersebut. Melansir dari Hellosehat,ada banyak hal yang membuat korban kekerasan sering kali memilih bertahan dengan pasangannya yang kasar.

1. Malu

Korban KDRT bisa juga bertahan karena merasa perceraian adalah aib dalam hidupnya. Sehingga ia akan berusaha sebisa mungkin menutupi kegagalan rumah tangganya.

2. Merasa bersalah

Ada pula korban kekerasan yang merasa bersalah meninggalkan pasangannya. Bahkan mereka bisa juga merasa amarah dan sikap kasar pasangannya karena kesalahan dirinya.

Korban KDRT di Bogor - (Twitter/@AyundaaaT_)
Korban KDRT di Bogor - (Twitter/@AyundaaaT_)

 

3. Ancaman

Banyak korban kekerasan memilih tidak pergi karena mendapat ancaman disakiti, diteror hingga dibunuh. Karena itu, korban lebih sulit berpikir jernih.

4. Tekanan sosial

Wanita korban KDRT sering kali merasakan tekanan sosial atau spiritual yang membuatnya bertahan dalam pernikahan meski terdapat kekerasan. Hal ini juga terkait budaya turun-menurun di mana wanita harus tunduk dengan suami.

5. Ketergantungan ekonomi

Banyak korban kekerasan takut pergi meninggalkan pasangannya karena sangat ketergantungan dalam segi ekonomi. Sehingga mereka takut tidak bisa menghidupi diri sendiri dan anaknya jika pergi.

Terkait

Terkini