Jum'at, 06 Desember 2019

Ingin Sterilisasi Seperti yang Disebut Suami Ayu Dewi? Begini Risikonya!

Ayu Dewi menolak ketika suami memintanya sterilisasi sebelum melahirkan anak ketiga.

Vika Widiastuti | Shevinna Putti Anggraeni
Ayu Dewi jelang persalinan (Suara.com/Wahyu Tri Laksono)
Ayu Dewi jelang persalinan (Suara.com/Wahyu Tri Laksono)

Himedik.com - Setelah melahirkan anak ketiga, Ayu Dewi justru diminta melakukan sterilisasi oleh suaminya, Regi Datau. Bahkan suami Ayu Dewi memintanya sebelum melakukan proses persalinan caesar.

"Kemarin di ruang tunggu, lagi sama yang nunggu gue, disuruh steril sama laki gue," kata Ayu di RS Medistra, Jakarta Selatan, Jumat (4/10/2019).

Ayu Dewi yang mendengar permintaan suaminya pun langsung menolak untuk sterilisasi karena masih ingin memiliki anak dengan cara alami. Lantas kembali menakut-nakuti suami jika ia tidak akan bisa hamil setelah sterilisasi.

"Jangan dong, kalau steril nggak bisa nakut-nakutin, 'hamil lho', kan sudah steril," ujar Ayu berseloroh.

Sterilisasi pada wanita atau yang disebut tubektomis adalah prosedur pencegahan kehamilan secara permanen. Metode kontrasepsi permanen ini melibatkan prosedur pembedahan di mana saluran tuba dijepit atau ditutup guna mencegah sel telur mencapai rahim.

Secara umum dilansir dari Healthline, metode kontrasepsi permanen dengan tubektomi cukup aman bagi perempuan. Bahkan cara ini 99 persen efektif dalam mencegah kehamilan yang tak direncanakan.

Ayu Dewi [Wahyu Tri Laksono/Suara.com]
Ayu Dewi [Wahyu Tri Laksono/Suara.com]

Karena bersifat permanen, sterilisasi wanita bukanlah pilihan yang baik bagi wanita yang mungkin ingin hamil di masa depan. Bahkan, wanita juga masih memiliki sejumlah risiko setelah melakukan sterilisasi.

Tidak seperti metode kontrasepsi lainnya, sterilisasi pada wanita tidak membantu mereka yang ingin mengatasi masalah siklus menstruasi. Sterilisasi wanita juga tidak melindungi Anda terhadap infeksi menular seksual (IMS).

Ada pula faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan. Misalnya, wanita yang memiliki risiko tinggi reaksi negatif terhadap anestesi mungkin tidak dapat menjalani prosedur bedah.

Ayu Dewi bersama suami dan dua anaknya. [Evi Ariska/Suara.com]
Ayu Dewi bersama suami dan dua anaknya. [Evi Ariska/Suara.com]

Bagi wanita yang ingin menjalani sterilisasi non-bedah, ada batasan lain. Saat ini, sterilisasi non-bedah bukan pilihan bagi mereka yang dalam kondisi tertentu, antara lain:

1. Hanya memiliki satu tuba falopii
2. Telah memiliki satu atau kedua tuba falopi yang terhalang atau tertutup
3. Alergi terhadap pewarna kontras yang digunakan selama sinar-X

Ada pula risiko tertentu yang mungkin terjadi selama prosedur sterilisasi, seperti infeksi dan pendarahan di ligasi tuba. Karena itu, Anda perlu membicarakannya kepada dokter tentang risiko sterilisasi sebelum tindakan.

Terkait

Terkini