Rabu, 13 November 2019

Marshanda Ceritakan Awal Ia Didiagnosis Bipolar, "Ngerti kan Beratnya?"

Caca mengaku tidak percaya dirinya memiliki mental illness karena selama ini dia merasa kuat dan sehat.

Vika Widiastuti | Rosiana Chozanah
Marshanda (Suara.com/Sumarni)
Marshanda (Suara.com/Sumarni)

Himedik.com - Salah satu selebriti di Indonesia yang mau terbuka tentang kesehatan jiwanya, dan mengaku ingin menyadarkan masyarakat betapa pentingnya hal-hal yang berkaitan dengan topik tersebut adalah Marshanda.

Bahkan, wanita yang kerap disapa Caca ini berani terbuka tentang pengalamannya saat didiagnosis dengan bipolar disorder atau gangguan bipolar.

"Jadi gue pertama kali didiagnosa bipolar disorder itu 2009. Nah gue lebih ke denial, gue enggak mau terima kalau gue punya mental illness dan itu sampek 4 tahun," cerita caca, dalam tayangan vlog 'Superwoman yang Sakit Mental', pada 10 Oktober 2019 lalu.

Padahal, imbuh Caca, saat itu keluarga dan orang-orang di sekitarnya sudah mulai menerima kondisinya.

Sedangkan dirinya belum dapat menerima sehingga ia jarang memeriksakan kondisinya ke dokter. Akibatnya, kondisinya saat itu menjadi tidak stabil.

Marshanda ceritakan perjuangannya setelah didiagnosis Bipolar Disorder (YouTube/Marshed)
Marshanda ceritakan perjuangannya setelah didiagnosis Bipolar Disorder (YouTube/Marshed)

Hingga sang ibu, Riyanti Sofyan, sering mengirim email yang berkaitan dengan kondisi jiwanya.

"Nyokap gue sering ngirim email, kayak newsletter tentang edukasi bipolar disorder, enggak pernah ada yang gue buka," lanjutnya.

Caca mengaku saat itu sangat tidak percaya dirinya memiliki penyakit jiwa karena selama ini ia merasa kuat dan sehat.

"Ngerti kan betapa beratnya itu bisa gue terima?"

Berkaca dari pengalamannya, Caca mengaku termovitasi untuk menyadarkan masyarakat karena menurutnya di Indonesia kesehatan jiwa masih dipandang sebelah mata.

"Di Indonesia tuh baru mulai emerging gitu loh, kesadaran orang tentang hal-hal kayak gini dan gue lebih menyuarakan lebih banyak aja."

Jika dibandingkan di Amerika atau Eropa, di Indonesia masih berbentrokan dengan stigma ketika melihat seseorang pergi ke psikiater. Padahal, menurut Caca, ini adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan semua orang.

Terkait

Terkini