Selasa, 12 November 2019

Kisah Layangan Putus, Apa Dampak bagi Korban Perselingkuhan?

Psikolog mengatakan dampak dari perselingkuhan tergantung pada resistensi mental korban.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
ilustrasi ketahuan selingkuh (shutterstock)
ilustrasi ketahuan selingkuh (shutterstock)

Himedik.com - Hingga kini, kisah Layangan Putus yang semula dibagikan oleh akun Facebook Mommi Asf masih menjadi bahan perbincangan warganet di media sosial.

Padahal, tulisan itu sendiri sudah dihapus dan Mommi Asf pun meminta maaf kepada warganet yang telah membaca kisahnya.

"Iyaaa mommi hapus dulu. Mommi minta maaf kepada para pembaca. Semoga para pembaca dan mommi selalu dilembutkan hati nya... mohon doa nya dari kakak kakak dan sahabat online semua, mommi dan anak anak selalu sehat dan berkumpul bersama yaa.. mereka kekuatan mommi, mohon doa segala yang baik utk mereka ya.. aaamiin," tulis Mommi Asf pada akunnya, Jumat (01/11/2019).

Unggahan ini pun banyak mendapatkan respon dari warganet yang bersimpati padanya.

Permintaan maaf mommi asf (Facebook/Mommi Asf)
Permintaan maaf mommi asf (Facebook/Mommi Asf)

Layangan Putus memang bercerita tentang seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Diketahui sang suami sudah menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan sang istri.

Hingga akhirnya mereka bercerai karena sang istri tidak kuat jika harus menjalani poligami.

"Pun selama setahun setengah menjalani poligami, yang aku rasakan memang kakiku sudah sakit sebelah. Ibarat dalam sisi medis, saran terbaiknya adalah mengamputasi kaki yang sudah luka dan membusuk, sebelum menjalar menyakiti organ lainnya," tulisnya saat itu.

Berdasarkan dari kisah ini, setiap masalah perselingkuhan tentu memiliki dampak. Baik bagi korban maupun pelaku.

Menurut psikolog klinis Kasandra Putranto, dampak psikologis pada korban peselingkuhan setiap orang berbeda sesuai kondisinya.

Ilustrasi suami selingkuh. (Shutterstock)
Ilustrasi suami selingkuh. (Shutterstock)

"Tergantung pada kekuatan dan resistensi mental mereka dalam menerima situasi yang terjadi. Kunci utama dari sebuah kondisi pasca-perselingkuhan adalah forgive (memaafkan) dan forget (melupakan)," jelas Kasandra pada Suara.com, Selasa (5/11/2019).

Ia menambahkan, jika korban perselingkuhan tidak dapat melakukan dua hal tersebut, tentu akan memberikan dampak sangat berat bagi korban.

"Memang membutuhkan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini," sambung Kasandra.

 

Terkait

Terkini