cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Minggu, 20 September 2020

Tak Legalkan Aborsi, Wanita di Kenya Nekat Beri Bayi Minuman Bersoda

Menurut laporan, hal ini dilakukan untuk membunuh bayi mereka.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi bayi baru lahir (Pixabay/one_life)
Ilustrasi bayi baru lahir (Pixabay/one_life)

Himedik.com - Kenya menjadi salah satu negara yang tidak melegalkan aborsi kecuali dalam kondisi darurat, misalnya ketika nyawa sang ibu atau janin terancam, seperti di Indonesia.

Karena masalah ini, Kenya tengah menghadapi krisis pembunuhan bayi ketika para ibu mencari cara lain untuk membunuh anak-anak mereka yang tak diinginkan.

Salah satu cara ibu membunuh anak-anak mereka adalah dengan memberi minuman berkarbonasi atau bir jahe, alih-laih ASI. Padahal, bayi baru lahir sangat bergantung pada nutrisi yang ditemukan dalam susu untuk bertahan hidup.

Tanpa ASI, mereka bisa mati kelaparan dalam beberapa hari. Dan jelas, minuman berkarbonasi tidak memiliki nilai gizi sama sekali.

Vincent Odhiambo, seorang aktivis hak asasi manusia di Kibera, mengatakan dia telah menerima laporan seorang wanita telah memberikan minuman berkarbonasi pada putrinya yang baru lahir.

Ilustrasi minuman bersoda. (Shutterstock)
Ilustrasi minuman bersoda. (Shutterstock)

Sebuah gambar pun dibagikan ketika seorang gadis kecil membungkuk seperti posisi janin dan diduga telah diberi minum Coca Cola oleh ibunya.

"Beberapa wanita tidak dalam posisi siap memiliki keluarga. Diketahui baa jika Anda memberi Coca Cola pada bayi, mereka akan meninggal," tutur Odhiambo, melansir World of Buzz.

"Anda bisa membayangkan, memberi bayi kecil Coca Cola alih-alih ASI, mereka tidak dapat bertahan lebih dari tiga hari," sambungnya.

Kondisi ini makin memburuk, bahkan mengambil bayi terlantar dan mati di tempat pembuangan sampah atau sungai telah menjadi hal sehari-hari karena sejumlah besar bayi yang dibiarkan di sana dimaksudkan untuk mati setiap hari.

Di sisi lain, masih banyak juga perempuan yang memilih tetap aborsi secara diam-diam. Padahal prosedur seperti ini seringkali memiliki konsekuensi fatal bagi sang ibu.

Terkait

Terkini