Sabtu, 18 Januari 2020

Belajar dari Greta Thunberg, Bagaimana Perubahan Iklim Pengaruhi Kehidupan?

Greta Thunberg adalah aktivis yang dinobatkan sebagai Person of the Year 2019 oleh majalah Time.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Greta Thunberg. [Twitter/Greta Thunberg/captured]
Greta Thunberg. [Twitter/Greta Thunberg/captured]

Himedik.com - Greta Thunberg, gadis16 tahun asal Swedia baru saja dinobatkan sebagai Person of the Year 2019 oleh majalah Time. Aktivis lingkungan ini dianggap sebagai inspirator gerakan global untuk memerangi perubahan iklim.

Sejak tahun lalu, Thunberg berdemonstrasi di depan gedung parlemen Swedia setiap Jumat, melewatkan sekolahnya demi gerakannya itu.

Hal ini memicu gerakan di seluruh dunia yang menjadi populer dengan tagar #FridaysForFuture.

Menyangkut hal yang diperjuangkan Greta, iklim di bumi terus berubah seiring waktu geologis. Suhu rata-rata global saat ini adalah sekitar 15 derajat celcius.

Namun, periode pemanasan saat ini terjadi lebih cepat daripada banyak peristiwa masa lalu. Para ilmuwan khawatir fluktuasi alami dalam iklim sedang disusul oleh pemanasan yang disebabkan oleh manusia yang berakibat serius bagi stabilitas iklim planet ini.

Melansir BBC, ada berbagai tingkat ketidakpastian tentang skala dampak potensial tentang pengaruh perubahan iklim terhadap manusia.

Jakarta juga terpapar kondisi perubahan iklim ini [PLOS One].
Jakarta juga terpapar kondisi perubahan iklim ini [PLOS One].

Tetapi perubahan itu bisa menyebabkan kekurangan air tawar, membawa perubahan besar pada kemampuan kita untuk menghasilkan makanan dan meningkatkan jumlah kematian akibat banjir, badai, gelombang panas serta kekeringan.

Ini karena perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan frekuensi peristiwa cuaca ekstrem.

Para ilmuwan memperkirakan lebih banyak curah hujan secara keseluruhan, tetapi mengatakan risiko kekeringan di daerah pedalaman selama musim panas akan meningkat.

Ilmuwan juga memprediksi akan ada lebih banyak banjir daripada badai dan naiknya permukaan laut. Namun, ada kemungkinan variasi dalam wilayah regional yang sangat kuat dalam pola ini.

Negara-negara miskin, yang paling tidak dipersiapkan untuk menghadapi perubahan yang cepat, bisa paling menderita.

Terkait

Terkini