Minggu, 19 Januari 2020

Chacha Frederica Punya Endometriosis sebelum Hamil, Hati-Hati Risikonya

Chacha Frederica pernah memiliki endometriosis sebelum akhirnya hamil anak pertama setelah 4 tahun menikah.

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
cloud_download Baca offline
Chacha Frederica [Suara.com/Marni]
Chacha Frederica [Suara.com/Marni]

Himedik.com - Setelah penantian 4 tahun, Chacha Frederica akhirnya hamil anak pertama. Sebelumnya, Chacha Frederica sempat memiliki masalah endometriosis sehingga harus bolak-balik ke Singapura untuk pengobatan.

Chacha Frederica baru mengetahui dirinya memiliki endometriosis di awal pernikahannya. Padahal ia mengaku sudah mengalami gejalanya sejak duduk di bangku sekolah.

Saat itu Chacha sering merasa sakit perut parah sampai harus istirahat setiap kali menstruasi. Tetapi, ia selalu mengabaikannya dan tak pernah menyangka tentang endometriosis.

"Akhirnya 2 minggu nikah, baru ke dokter kandungan. Ternyata ada endometriosis 0,8 cm," ujar Chacha Frederica dalam channel YouTube Tya Ariestya.

Ketika pertama kali mengetahui endometriosis, dokter sempat meminta Chacha Frederica menunggu sampai satu tahun pernikahan terjadi pembuahan atau tidak. Pasalnya, ukuran endometriosis yang dimiliki Chacha Frederica cukup kecil, yakni 0,8 cm.

Chacha Frederica [Sumarni/Suara.com]
Chacha Frederica [Sumarni/Suara.com]

Setelah setahun menikah belum memiliki keturunan, dokter baru memberi tahu Chacha Frederica bahwa endometriosisnya mengganggu pembuahan.

Akibatnya, Chacha Frederica langsung disarankan melakukan operasi laparoskopi. Setelah operasi itu pun Chacha Frederica juga tak langsung hamil.

Chacha Frederica sempat harus menunggu lama dan menjalani berbagai larangan, sampai akhirnya hamil anak pertama.

Melansir dari Hello Sehat, wanita dengan endometriosis memang lebih sulit hamil. Sebuah studi menemukan sekitar 15-20 persen pasangan subur yang mencoba hamil akan berhasil setiap bulannya, tapi kemungkinan tersebut akan menurun 2-10 persen jika memiliki endometriosis.

Sementara itu, hamil dengan endometriosis bisa memperparah maupun meringankan gejalanya. Hal ini tergantung pada seberapa parahnya penyakit Anda, produksi hormon dan respons tubuh pada kehamilan.

Ilustrasi sakit endometriosis (shutterstock)
Ilustrasi sakit endometriosis (shutterstock)

Jika gejala makin parah, kondisi ini bisa disebabkan oleh uterus (rahim) yang semakin berkembang untuk pertumbuhan janin memberikan tekanan berlebih pada area dinding rahim.

Ada pula faktor lain yang menyebabkan gejala endometriosis makin parah adalah peningkatan hormon estrogen yang bisa menyebabkan lebih banyak luka.

Sementara itu, ada juga wanita yang merasa gejala akibat endometriosis lebih ringan saat hamil. Gejala ini termasuk nyeri dan perdarahan yang hebat saat menstruasi.

Kondisi ini mungkin saja bisa terjadi karena peningkatan kadar hormon progesteron selama kehamilan. Hormon ini bisa menekan dan menyusutkan pertumbuhan endometrium.

Namun, wanita dengan endometriosis lebih berisiko mengalami komplikasi kehamilan atau saat melahirkan. Hal ini disebabkan oleh kerusakan struktur rahim dan pengaruh hormon.

Adapun risikonya antara lain preeklampsia, plasenta previa, keguguran, kelahiran prematur dan persalinan caesar.

Terkait

Terkini