cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Rabu, 12 Agustus 2020

Mengidap Locked-In Syndrome, Gadis Ini Meninggal Usai Tersedak Marshmallow

Locked-In Syndrome (LIS) merupakan salah satu jenis stroke yang paling tidak biasa.

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi tersedak - (Pixabay/un-perfekt)
Ilustrasi tersedak - (Pixabay/un-perfekt)

Himedik.com - Mia Austin dari Lower Heswall, Wirral, Merseyside, didiagnosis memiliki Locked-In syndrome (LIS) yang membuat dirinya mengalami kelemahan tubuh. Ia dinyatakan meninggal dunia secara tiba-tiba setelah tersedak marshmallow.

Berdasarkan riwayat kesehatannya, Austin pernah kehilangan kekuatannya untuk berbicara dan bergerak setelah mengalami stroke 10 tahun yang lalu. Bahkan, ia tidak dapat batuk.

Austin rupanya memakan marshmallow karena dirinya meniru sebuah adegan di tayangan televisi Love Island, di mana kontestan saling menantang untuk memasukkan sebanyak mungkin marsmallow ke mulut mereka.

Sebelum memakannya, salah seorang teman mengatakan kepada Austin untuk memotong marshmallownya terlebih dahulu. Namun Austin tidak mau mendengarkan.

Ketika ia mulai memakannya, ia pun tersedak dan mulai panik.

Ilustrasi tersedak [shutterstock]
Ilustrasi tersedak [shutterstock]

Teman-temannya pun memanggil tim medis, namun nyawa Austin tidak dapat diselamatkan.

"Dia ingin beberapa marshmallow dan kemudian ia memasukkannya ke dalam mulut. Ini menyebabkan penyumbatan di jalan napasnya dan karena ia tidak bisa mengeluarkannya, itu menyebabkan sesak napas," lapor Koroner Dewi Pritchard Jones.

Melansir Hello Sehat, locked-in syndrome (LIS), yang juga disebut central pontine syndrome, disebabkan oleh kerusakan pada daerah batang otak yang disebut pons.

Sindrom ini termasuk ke dalam salah satu jenis stroke yang paling tidak biasa. Kondisi ini merupakan stroke berat, meski hanya memengaruhi sebagian kecil batang otak.

Orang yang menderita locked-in-syndrome lumpuh di kedua lengan, kedua kaki, dan seluruh wajah. Oleh karena itu, orang dengan locked-in-syndrome tidak bisa bergerak atau berbicara.

Namun, seseorang penderita locked-in-syndrome tetap memiliki kemampuan untuk berpikir, menggerakkan mata mereka, berkedip, dan membaca.

 

Terkait

Terkini