Kamis, 02 April 2020

5 Mitos Populer Soal Pap Smear, Ketahui Faktanya

Mitos pap smear berikut sering disangka benar, padahal tidak.

Yasinta Rahmawati
cloud_download Baca offline
Ilustrasi organ intim. (Shutterstock)
Ilustrasi organ intim. (Shutterstock)

Himedik.com - Lebih dari 60 tahun, pap smear menjadi praktek dalam pencegahan kanker serviks. Karena menjadi bagian signifikan dalam memelihara kesehatan reproduksi wanita, penting untuk mendapat informasi yang akurat soal pap smear.

Namun sayangnya, hingga kini masih banyak berseliweran mitos tentang pap smear. Dilansir dari Business Insider, berikut mitos pap smear yang sering disangka benar padahal tidak.

1. Pap smear sangat menyakitkan

Ini mungkin menjadi mitos paling umum tentang pap smear. Namun sebenarnya, bagi banyak wanita tes pap smear tidak menyakitkan. Memang rasa tidak nyaman pasti ada, sebab ginekolog akan memakai alat untuk membuat vagina terbuka selama prosedur.

2. Pap smear sebelum menikah, artinya tidak perawan

Perlu diperjelas bahwa keperawanan tidak ada dalam konsep medis, ia terbentuk karena sosial, budaya dan agama. Selama ini, banyak orang mengasosiasikan ide keperawanan dengan selaput dara (hymen), sehingga takut tes pap smear akan merusaknya.

Hal itu mungkin dapat terjadi, namun masih sangat tidak mungkin perangkat akan memecahkan selaput dara jika dokter mereka bersikap lembut selama pemeriksaan.

Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)

3. Tidak perlu pap smear jika sudah mendapat vaksin HPV

Meski HPV adalah penyebab utama kanker serviks wanita muda, masih ada banyak faktor lainnya. The American Cancer Society menyatakan bahwa riwayat merokok, infeksi HIV, serta riwayat keluarga kanker adalah semua faktor yang berkontribusi terhadap perubahan prakanker pada serviks.

Ini berarti ada kemungkinan bagi seseorang untuk tetap berisiko terhadap kanker serviks, tanpa pernah tertular virus apa pun yang dilindungi oleh vaksin HPV.

4. Anda hanya perlu tes pap smear jika sudah pernah melakukan hubungan seksual

Menurut Planned Parenthood, semua orang dengan organ reproduksi wanita harus mulai melakukan pap smear tahunan mulai usia 21. Ini terlepas dari tingkat aktivitas seksual mereka dan berjalan seiring dengan gagasan bahwa HPV bukan satu-satunya penyebab kanker serviks.

Ilustrasi serviks [Shutterstock].
Ilustrasi serviks [Shutterstock].

5. Jika Anda mendapatkan hasil abnormal dari tes pap smear, itu selalu berarti Anda menderita kanker

Secara umum tidak perlu panik hanya karena tes Anda memiliki hasil abnormal. Istilah medis untuk sel-sel abnormal di leher rahim disebut cervical dysplasia. Pada dasarnya, ini terjadi ketika sel tidak mengikuti gerakan atau pola bentuknya yang khas.

Terkadang keberadaan sel-sel ini dapat menunjukkan risiko tinggi untuk kanker. Tetapi menurut Koalisi Kanker Serviks Nasional, hasil pap smear abnormal tidak secara otomatis berarti seseorang memiliki kanker serviks, juga tidak berarti akan mengembangkannya di masa depan.

Terkait

Terkini