cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Jum'at, 07 Agustus 2020

Waduh, Pengobatan Kanker Payudara Kurang Efektif pada Wanita Obesitas!

Peneliti belum menemukan apakah hal ini sama dengan pengobatan kanker lain.

Rendy Adrikni Sadikin | Rosiana Chozanah
cloud_download Baca offline
Ilustrasi Obesitas (Shutterstock)
Ilustrasi Obesitas (Shutterstock)

Himedik.com - Kegemukan atau obesitas dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan, mulai dari sindrom metabolik, tekanan darah tinggi, hingga kanker. Itulah sebabnya wanita dengan berat badan berlebih disebut memiliki risiko terkena kanker payudara dan mengalami kekambuhan.

Sekarang, sebuah penelitian baru mengungkap pengobatan kanker payudara mungkin kurang efektif pada wanita gemuk atau obesitas.

Studi yang terbit di Journal of Clinical Oncology menemukan wanita obesitas yang menjalani pengobatan docetaxel, obat kemoterapi umum, hanya mendapat sedikit manfaat dari pengabatan tersebut, dibandingkan wanita kurus.

Dilansir The Health Site, para peneliti menjelaskan lemak yang ada dalam tubuh dapat menyerap sebagian dari obat sebelum dapat mencapai tumor.

Para peneliti sampai pada kesimpulan ini setelah menganalisis data dari uji klinis yang melibatkan lebih dari 2.800 pasien kanker payudara selama lebih dari sepuluh tahun.

Ilustrasi balita obesitas. (Shutterstock)
Ilustrasi obesitas. (Shutterstock)

Pasien diberi kombinasi obat kemoterapi dengan atau tanpa docetaxel.

Analisis statistik dari data menunjukkan pasien yang kelebihan berat badan atau obesitas penerima docetaxel memiliki hasil yang lebih buruk daripada penerima dengan tubuh kurus. Hasilnya meningkatkan kekhawatiran saat merawat pasien kanker yang obesitas dengan docetaxel.

Para peneliti berspekulasi apakah ini juga berlaku untuk jenis kanker lain, seperti kanker prostat atau paru-paru. Temuan ini juga membuat mereka berpikir apakah obat kemoterapi lain tetapi dari satu jenis, seperti paclitaxel, akan menunjukkan efek yang sama.

Namun, mereka mencatat bahwa masih banyak penelitian diperlukan sebelum perubahan dalam pengobatan dapat diimplementasikan.

Terkait

Terkini