cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Sabtu, 26 September 2020

Studi: Lendir Serviks Perempuan Mampu Menghalangi Sperma Tak Berkualitas

Sistem reproduksi perempuan ternyata punya andil dalam memilih sel-sel sperma yang masuk.

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
cloud_download Baca offline
Manfaat sperma untuk kesehatan dan daya tahan tubuh (Pixabay/TBIT)
Manfaat sperma untuk kesehatan dan daya tahan tubuh (Pixabay/TBIT)

Himedik.com - Keberhasilan kehamilan ternyata bukan hanya soal kekuatan sperma, namun juga fungsi lendir dalam serviks perempuan. Sebuah studi menunjukkan bahwa partikel kimiawi dalam lendir sistem reproduksi perempuan mampu memilah sperma berkualitas untuk tetap hidup sampai ke ovarium.

Melansir dari CNN, sebuah penelitian yang diterbitkan pada Rabu (19/8/2020) menunjukkan bahwa seleksi masuknya sperma terjadi di serviks perempuan. Gerakan, kecepatan, dan kelangsungan hidup sperma dipengaruhi oleh tingkat kompatibilitas genetik antara lendir serviks perempuan dan sperma. 

Dalam hal ini, sekresi reproduksi perempuan membantu sperma yang paling mungkin memberikan keturunan untuk tetap bertahan hidup.

"Seluruh saluran reproduksi perempuan tampaknya telah berevolusi untuk menyaring spermatozoa yang tidak diinginkan," kata Jukka Kekäläinen, seorang profesor di departemen ilmu lingkungan dan biologi di Universitas Finlandia Timur yang menulis penelitian tersebut.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa setelah vagina, rintangan besar pertama yang ditemui sperma dalam perjalanannya menuju pembuahan adalah leher rahim (serviks). Serviks biasanya diisi dengan lendir kental di mana menjadi lebih tipis dan lebih dapat ditembus sebelum seorang wanita berovulasi.

Lendir ini dianggap membantu sperma normal berjalan lebih mudah dan menghalangi sperma yang tidak normal. Menurut Kekäläinen, lendir serviks  memiliki efek lebih kuat pada sperma.

Penemuan ini dapat digunakan untuk memajukan pemahaman tentang ketidaksuburan, terutama pada pasangan yang memiliki diagnosis subur tapi tidak kunjung memiliki keturunan. Studi ini juga diharapkan dapat memfasilitasi pengembangan diagnosa infertilitas yang lebih personal untuk meningkatkan akurasi dari diagnosa.

Terkait

Terkini