cancel

Data COVID-19 Indonesia

Positif -
Dirawat -
Sembuh -
Meninggal -
Sumber data: kawalcovid19.id
Lihat Detail
Sabtu, 26 September 2020

Awas, Pemakaian Sabun Pembersih Kewanitaan Bisa Picu Infeksi pada Vagina

Keseimbangan pH vagina bisa terganggu karenanya.

Yasinta Rahmawati
cloud_download Baca offline
Ilustrasi organ intim, vagina. (Shutterstock)
Ilustrasi organ intim, vagina. (Shutterstock)

Himedik.com - Setiap wanita tentu ini organ intimnya selalu bersih dan wangi. Meski vagina cukup dibersihkan dengan air bersih, banyak yang memilih memakai sabun pembersih kewanitaan

Namun perlu diwaspadai, bahwa alih-alih menyehatkan, penggunaan yang berlebihan justru bisa memicu infeksi pada vagina.

Disebutkan Dr. dr. Ali Sungkar, Sp.OG(K), sabun pembersih kewanitaan bisa merusak keseimbangan pH vagina yang rata-rata di bawah 4.

"Perempuan inginnya mencuci vagina pakai sabun wangi. Hati-hati sabun wangi, pH air saja 7, kalau sabun wangi di atas 7 pH-nya," ujar Konsultan Obstetri dan Ginekologi ini.

Bukan tanpa alasan perempuan harus menjaga pH vagina di bawah 4. Kondisi asam ini merupakan lingkungan ideal agar bakteri baik atau probiotik jumlahnya tetap mencukupi untuk melawan bakteri jahat, virus, dan kuman yang bisa menyebabkan infeksi.

"Vagina itu jangan mau steril, harusnya ada kuman lain. Tapi kalau bisa, bakteri baiknya yang banyak," ungkap dr. Ali.

Keseimbangan pH vagina ini juga bisa terganggu akibat kondisi vagina yang lembap. Pemicunya biasanya karena jarang mengganti celana dalam, penggunaan pembalut saat haid, hingga penggunaan panty liner.

"Penggunaan panty liner dan lain-lain membuat vagina lebih lembap, sehingga ini yang diminta dipelihara, jangan sampai terjadi vulvovaginitis atau infeksi vagina," terang dr. Ali.

Jika mengalami infeksi vagina, dikhawatirkan terjadinya penyakit menular yang disebabkan human papilloma virus (HPV) saat berhubungan seks, dan pada ibu hamil bisa menularkan pada bayinya jika melakukan persalinan normal.

Nah, ibu hamil yang didiagnosis vulvovaginitis, baik karena kuman, bakteri, hingga HPV, biasanya dokter akan melarang melakukan persalinan normal, dan meminta ibu hamil untuk melahirkan secara caesar.

"Kenapa? Kalau bayinya masuk virus dan ke tenggorok, itu jadi papiloma yang di laring (tenggorokan). Itu bahaya," pungkasnya.

(Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Terkait

Terkini